Resensi Novel Habibie dan Ainun

Written By Riska Rostiani on Minggu, 07 April 2013 | 22.15

by sukses-seimbang.blogspot.com
Judul: Habibie & Ainun
Pengarang: Bacharuddin Jusuf Habibie
ISBN: 978 979 1255 13 4
Penerbit: PT THC Mandiri
Tahun terbit: November 2010
Tebal: xxi + 323 halaman

          Novel ini menceritakan secara lengkap kisah hidup dan perjuangan bahtera rumah tangga B.J Habibie bersama Ainun dari awal jumpa hingga Ibu Ainun akhirnya berada di alam barzah.
          Diawali dengan bertemunya kembali Habibie dengan Ainun di kediaman keluarga Besari (Keluarga Ainun) setelah hampir 7 tahun tidak bertemu. Pertemuan malam Idul Fitri itu menyisakan kenangan rindu bagi Habibie muda akan pandangan mata menyejukkan yang diberikan oleh Ainun muda kala itu. “Kok gula jawa sudah jadi gula pasir”, ungkap Habibie saat bertemu Ainun. Ya, di masa SMP Habibie pernah mencela Ainun, "he, kenapa sih kamu kok gendut dan hitam?". Namun, beranjak dewasa Ainun berubah menjadi bidadari menyejukkan di mata Habibie
          Proses pertunangan dan pernikahan yang cukup cepat, tetapi dilakukan dengan kepastian jiwa dan kekuatan cinta yang murni, suci,sejati,dan abadi serta keyaninan bahwa Allah SWT selalu akan menemani, memungkinkan keduanya yakin untuk bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga di Jerman.
          Di jerman perjuangan mereka pun dimulai. Ainun sangat mendukung pekerjaan dan tugas Habibie dengan tanpa mengeluh. Di sana dia selalu mencoba melakukan tugas dan kegiatan dengan sebaik mungkin tanpa mengganggu konsentrasi, perhatian, dan pekerjaan Habibie. Dia selalu menjaga dan mengontrol kesehatan Habibie dengan menyediakan makanan sehat. Senyum menawan Ainun yang selalu dirindukan hadir di setiap hari-hari Habibie.
          Sebaliknya, Habibie juga selalu melibatkan Ainun dalam setiap kegiatannya, menceritakan dan meminta pertimbangan istrinya untuk setiap keputusan yang akan diambil. Benar-benar perpaduan yang harmonis, indah, romantis atas dasar cinta.
          Dibagian tengah cerita, sebuah kesadaran pun ingin ditularkan oleh penulis kepada seluruh pembacanya. Bahwasanya semangat nasionalisme haruslah selalu dipupuk dan dikembangkan dalam setiap jiwa insan bangsa Indonesia. Sebagai contoh, penulis yang saat itu adalah CEO sebuah perusahaan penerbangan terkemuka di Jerman, rela meninggalkan semuanya. Bersama keluarga, Habibie kembali ke Indonesia untuk tujuan mulia mengabdi dan mengembangkan negara tercinta dengan ilmu yang didapat.
         Sekitar Agustus 1996 Ibu Ainun mengalami gangguan kesehatan. Di bulan Oktober beliau harus di rawat di Rumah Sakit MMC karena masalah jantung yang di deritanya. Januari 2010 keadaan ibu Ainun memprihatinkan. Tanggal 23 Maret setelah melakukan pemeriksaan, ternyata Ainun mengidap kanker ovarium, padahal Habibie dan Ainun berencana akan berlayar dengan kapal Pesiar esok harinya. Rencana itu pun dibatalkan. Mereka memutuskan untuk berangkat ke Jerman untuk berobat. Pada tanggal 22 Mei 2010 pukul 17.30 waktu Muenchen,  Ibu Ainun dengan tenang  dan damai pindah ke alam dimensi yang lain.
          Tampak pula peran maksimal seorang istri bagi Habibie dalam semua aktivitasnya. Seorang tokoh teknologi menjadi tokoh politik, presiden ketiga Republik Indonesia. Oleh sebab itu, sangatlah pantas jika dalam pidatonya dalam tiap kesempatan, Habibie sering menyampaikan bahwa di balik sukses seorang tokoh tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan, yaitu ibu dan istri.
          Di akhir cerita, tergambar dengan jelas keterkaitan Habibie dan Ainun. Ada kejadian yang sangat menyentuh, yaitu ketika Ibu Ainun di ICCU, Pak Habibie yang telah menjadi kebiasaan selalu tiba di ICCU pukul 10 pagi, pada hari itu harus terlambat datang karena dilarang masuk sebab tim dokter sedang melalukan operasi mendadak. Ketika Habibie akhirnya masuk 2 jam kemudian, didapatinya Ainun sedang menangis. Kenapa? Karena khawatir terjadi sesuatu dengan Habibie yang terlambat datang.


Doa Habibie untuk Ainun

Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan saya untuk Ainun dan Ainun untuk saya

Terima kasih Allah, Engkau telah pertemukan saya dengan Ainun dan Ainun dengan saya

Terima kasih Allah, hari Rabu tanggal 7 Maret 1962 Engkau titipi kami bibit Cinta yang
murni, suci, sejati, sempurna dan abadi melekat pada diri Ainun dan saya

Terima kasih Allah Engkau telah memungkinkan kami menyiram bibit cinta ini dengan
kasih sayang nilai iman, takwa dan budaya kami tiap saat sepanjang masa

Terima kasih Allah Engkau telah menikahkan Ainun dan saya sebagai suami istri tak
terpisahkan dimanapun kami berada sepanjang masa

Terima kasih Allah Engkau telah perkenankan Ainun dan saya bernaung dan berlindung
dibawah bibit cinta titipanMu ini dimanapun kami berada, sepanjang masa sampai Akhirat

Terima kasih Allah, Engkau telah memungkinkan kami dapat menyaksikan merasakan
menikmati dan mengalami titipanMu menjadi cinta yang paling murni paling suci paling
sejati paling sempurna dan paling abadi di seluruh alam semesta dan sifat ini hanya dapat
dimiliki oleh Engkau Allah

Terima kasih Allah Engkau telah menjadi Ainun dan saya manunggal jiwa, roh, batin, dan
nurani kami melekat pada diri kami sepanjang masa dimanapun kami berada

Terima kasih Allah, Engkau telah memungkinkan semua terjadi sebelum Ainun dan saya
tanggal 22 Mei 2010 pukul 17.30 untuk sementara dipisahkan. Ainun berada dalam Alam
baru dan saya sementara masih di Alam dunia

Terima kasih Allah perpisahan kami berlangsung damai tenang khidmat dengan
keyakinan bahwa kebijaksanaanMu adalah terbaik untuk Ainun dan saya

Berilah Ainun dan saya petunjuk mengambil jalan yang benar kekuatan untuk mengatasi
apa yang sedang dan akan kami hadapi dimanapun kami berada
lindungilah Ainun dan saya dari segala Gangguan ancaman dan godaan yang dapat
mencemari cinta murni suci sejati sempurna abadi kami sepanjang masa
aamiin.

          Melalui novel Habibie & Ainun ini, kita mendapatkan amanat cerita dan inspirasi bagi para suami dan istri agar kesetiaan yang telah dijanjikan di mahligai pernikahan terus berbunga di sepanjang hidupnya. Cobaan seberat apapun yang terjadi jika dilakukan dengan cinta kasih suami isteri,akan terasa ringan. Semoga kisah Habibie dan Ainun ini bisa menginsirasi kita semua. aamiin!

Referensi:
* eviwidi.wordpress.com
* sukses-seimbang.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar